Ratu itu datang belakangan
Begitu nama Margherita disebut, cerita istana ikut masuk. Versi yang paling telanjur terkenal begini: pada 1889, Raffaele Esposito dari Pizzeria Brandi di Napoli membuat pizza untuk Ratu Margherita dari Savoy. Warna tomat, mozzarella, dan basil dibaca sebagai bendera Italia yang baru disatukan: merah, putih, hijau. Surat terima kasih dari rumah tangga kerajaan dipajang seperti tanda sah, lalu cerita itu berkeliling lebih cepat daripada adonan sempat naik.
Di dapur Napoli, susunan itu sudah jalan sebelum nama sang ratu masuk menu. Francesco De Bourcard menulis kebiasaan makan orang Napoli pada 1866, termasuk pizza dengan tomat, mozzarella, dan basil. Jadi saya sulit menerima versi bahwa Pizza Margherita lahir utuh dari satu kunjungan kerajaan. Kunjungan itu membuat lampu panggung menyala; kerja beratnya sudah lebih dulu dilakukan para pembuat roti yang memberi makan pekerja lapar, hari demi hari, tanpa perlu cap kerajaan.
Legenda ratu tetap punya guna. Nama Margherita membuat pizza ini mudah menempel di ingatan, dan makanan memang butuh cerita untuk menyeberang dari kota ke negara lain, lalu sampai ke Bali. Namun bagian yang paling enak digigit bukan mahkota. Saya lebih percaya jalanan Napoli abad ke-19, dengan oven panas, tangan cekatan, dan bahan yang tidak bisa sembunyi di balik saus berlebih.
Topping sedikit, tuntutannya banyak
Pizza dengan daging, jamur, bawang, saus tebal, sampai keju ekstra bisa menyembunyikan banyak dosa. Margherita tidak begitu murah hati. Tomat membawa asam dan air; mozzarella membawa lemak sekaligus cairan; basil wangi, tetapi cepat getir kalau kena panas terlalu lama. Karena itu, pizza yang tampak polos ini lebih galak daripada pizza yang penuh topping. Satu tepi gosong atau dasar becek langsung ketahuan.
Dalam gaya Napoli, oven bermain di kisaran 430-480 C, dan pizza matang dalam rentang 60-90 detik. Angka itu bukan pajangan di brosur. Pada waktu sependek itu, pinggir adonan harus naik dan melepuh sebelum kering, tengahnya tetap lentur tanpa berubah jadi kolam, sementara keju meleleh sebagai pulau kecil, bukan selimut karet. Telat sedikit, teksturnya langsung berubah.
Yang paling susah justru menahan tangan, karena saus berlebih membuat dasar lembek, mozzarella yang terlalu basah menarik potongan seperti benang, dan basil harus masuk dengan wangi yang masih hidup saat pisau turun di meja.
Di Signa, oven punya jam sendiri
Di Signa Cafe, Pizza Margherita dibiarkan sederhana: tomat, mozzarella, basil. Tidak ada jagung manis atau saus manis yang mengambil alih rasa; sosis pun tidak ikut campur. Kalau dasar pizzanya benar, topping sedikit sudah bicara. Kalau dasar itu meleset, tambahan apa pun hanya membuat kesalahan terasa lebih mahal. Satu gigitan cukup memberi tahu apakah adonannya beres.
Oven pizza di Signa Cafe mulai menyala dari 14:00, jadi Margherita bukan urusan sarapan. Pagi di Nusa Dua lebih enak buat kopi sambil membuka laptop; brunch bisa jalan pelan tanpa mengejar oven. Lewat jam dua, suasananya bergeser. Orang dari Nusa Dua atau Benoa yang baru selesai pantai punya alasan jelas untuk berhenti sebelum malam turun. Ritme Bukit memang berubah cepat setelah matahari mulai miring.
Setiap hari pukul 14:00-18:00, Pizza Margherita harganya 89 000 IDR (14:00-18:00). Rentang waktunya terasa pas untuk perut yang mulai kosong setelah pantai, bukan untuk makan berat yang butuh keputusan panjang. Makan pizza jam empat tidak sama dengan makan besar jam tujuh; ritmenya lebih ringan, masih ada waktu pulang, dan anak yang lapar tidak tersandera rapat kecil bernama rencana makan malam.
Untuk meja yang tidak mau debat
Pizza Margherita enak dipasang di meja yang seleranya tidak kompak. Di satu meja bisa ada yang menghindari pedas, sementara anak kecil lebih tenang melihat roti dan keju. Yang dewasa tinggal makan rapi sambil meneguk kopi, tanpa harus memisahkan lauk atau bertanya isi saus. Di Bukit, pemandangan begini gampang ditemui: keluarga dari Ungasan, teman yang turun dari Jimbaran, sampai tamu Nusa Dua yang mencari tempat tanpa drama.
Signa Cafe cocok menjadi kafe keluarga karena pilihan seperti Margherita tidak memaksa orang tua memberi kuliah kecil sebelum anak makan. Pizza ini ramah anak bukan karena bentuknya dibuat lucu, melainkan karena bahannya terang-terangan: tomat dan keju terlihat jelas, rotinya pun langsung terasa akrab. Basil boleh disingkirkan oleh anak yang sedang keras kepala, meski saya tetap akan minta ia mencoba satu gigitan dengan daun itu. Kadang satu daun hijau saja cukup untuk membuka negosiasi.
Untuk minum, kopi masih cocok kalau berhentinya sore dan laptop ikut dibuka. Setelah pantai di Bali, minuman dingin terasa lebih masuk akal. Pizza tidak tersinggung.
Kenapa menyeberang ke Nusa Dua?
Datang untuk Margherita bukan karena pizza ini aneh. Justru karena ia tidak bisa pura-pura. Sepotongnya membawa jejak tomat di dapur Italia selatan, mozzarella yang menjadi industri, penyatuan Italia, dan kecerdikan Napoli mendorong makanan jalanan ke dunia. Di permukaan ia terlihat seperti pilihan aman. Di bawahnya, sejarah bergerak panjang.
Signa Cafe berada di Jl. Dharmawangsa, Jl. Raya Kampial, Benoa, Nusa Dua, Bali 80361. Kafe ini buka setiap hari 08:00-23:00, last order 22:30, dan berdiri sejak 2024 dengan tagline Eat. Meet. Create. Kalau rutenya sedang menghubungkan kawasan resort Nusa Dua, Benoa, Ungasan, dan Jimbaran, berhenti setelah 14:00 lebih masuk akal daripada memaksa pizza saat pagi. Jarak pendek di Bukit bisa terasa jauh saat semua orang lapar.
Menu online dan delivery ada di https://signa.dishi.rest/, teleponnya +62 896 540 27190, Instagram @signa.cafe. Rating Google Signa Cafe 4.7 dari 1426+ ulasan. Di atas piring, potongan yang tampak polos itu mengingatkan saya bahwa cerita paling ramai tidak selalu datang dengan topping paling banyak. Kadang ia datang bersama saus tomat yang jujur dan keju yang meleleh tepat waktu.